RSS

Cinta Terlarang Part 1

01 Sep

Pertama-tama aku gak punya alasan khusus untuk menulis cerpen ini. tapi sudahlah silahkan menikmati cerpen saiia

“Semuanya, harap duduk! Sekarang kelas kita akan kedatangan murid baru”ujar pak Udin saat masuk kekelas.
”Cowok atau cewek pak? Pasti cewek khan?” goda Jono.
”Hm…. Tapi sayang sekali. Teman baru kita ini adalah Cowok”jawab pak Udin sambil nyengir sehingga gigi kinclongnya terlihat menyilaukan mata
”Huuuuuu…..u…..uu..” Sorak murid cowok dikelas yang terlihat norak
”Sudah diam, Okta ayo masuk!” ajak pak Udin. Lalu terlihat seorang cowok dengan body oke punya masuk ke dalam ruangan dan memperkenalkan dirinya didepan kelas. Sifat COOL-nya saat memperkenalkan dirinya itu bikin hatiku berdebar-debar sangat kencang.
Sejak kedatangannya, entah mengapa saat melihat dia aku jadi salting (baca: salah tingkah). Akhirnya aku pun menceritakan perasaan anehku ini pada sahabatku Dinda. Setelah mendengar keluh kesahku, Dinda pun akhirnya penasaran dengan anak yang bernama Okta.
”Pokoknya besok kamu harus kasih tau mana yang namanya Okta yah!” Ancam Dinda
”Aduh, boro-boro mau kenalin ama kamu. Ngomong ama dia aja aku rada salting” sambil malu-malu aku menepuk pundak Dinda.
”Terserah, pokoknya besok aku bakalan kekelasmu. Mungkin aja nanti aku bisa nyomblangin lo ama dia” sambil cengengesan Dinda pun balik ke kelasnya
Yups, seperti ucapannya kemarin sekarang dia datang kekelasku. Mau gak mau aku coba kenalin dia ama Okta. Setelah itu Dinda coba ngobrol dengannya meski kadang-kadang banyak diemnya.
“Sepertinya kamu harus berusaha keras deh!” ujar Dinda
“Maksudnya apa?”
“Dia tuh diem banget, kamu harus agresif kalau mau jadi ceweknya”
“Ta…tapi aku khan enggak minta jadi ce…ceweknya” jawabku terbata-bata
“Gak usah mungkir. Tenang aja aku bakalan bantu apapun untuk sobatku ini” Dinda pun menepuk pundakku sambil tersenyum.
Sejak ucapannya itu Dinda jadi sering datang ke kelasku dan membantuku dengan jurus mautnya agar Okta dekat sama aku. Tanpa sadar beberapa minggu berikutnya aku pun sudah jadian sama Okta.
Tapi setelah jadian dengan Okta entah mengapa aku merasa seperti diasingkan di kelas. Ika yang biasanya dekat denganku saat dikelas, sekarang tidak pernah mau berbicara denganku. Aku jadi khawatir apa aku melakukan kesalahan yang besar sehingga anak-anak sekelas tak mau berbicara denganku.
Keesokan harinya aku sedikit terlambat datang kesekolah lantaran menunggu adekku. Jam pertama telah dimulai, dengan gugup aku pun masuk ke kelas.Untung saja Pak Udin belum datang. Maklum pelajaran pertama hari ini adalah pelajarannya pak udin. Aku pun beralan menuju ketempat dudukku, entah mengapa aku merasa ada yang menatapku dengan tatapan yang aneh
“Eh, Jablay……” suara bisik-bisik Ika dan nisa terdengar ditelingaku. Sesaat aku merasa bahwa mereka sedang membicarakanku, tapi saat aku melihat kearah mereka, mereka mengalihkan pembicaraannya. Saat itu juga aku berpikir bahwa aku salah denger.
Selesai jam istirahat aku pun segera kembali kekelasku saat berada di depan kelas tanpa sengaja aku mencuri pembicaraan mereka
“Eh, tau gak kemarin aku liat sih Via berduan sama Okta.”
“Via? Olivia?”
“Iya Olivia ama Okta. Kemarin berduaan sambil pegangan tangan. Ih, kayak Jablay aja deh. Aku jadi Ilfeel kalau ngelihat mereka”
“lusa kemarin aku juga liat Via ama Okta, dimobilnya Okta malah. Ih gak tau malu yah!” tiba-tiba air mata yang sedari tadi aku bendung berhasul jatuh dan membasahi pipiku, aku pun langsung berlari menuu kamar mandi untuk menghapus air mata ini, dan merenungkan kesalahanku dimata mereka.
Setelah beberapa menit aku berada di kamar mandi, aku pun memutuskan untu kembali ke kelas dengan mata yang sedikit sembab, beberapa siswa melihatku dengan tampang sedikit aneh
“Habis nangis yah? Kenapa?” Tanya Rita, cewek yang gak banyak omong yang sekarang lagi duduk di sebelahku.
“E…Enggak.. enggak ada apa-apa kok” Jawabku
“Oh gitu, ya udah deh!” sambil membaca lagi komik yang sedari tadi dibacanya. Ini anak benar-benar cueknya minta ampun. Bener-bener berbeda dengan Rika yang dulu aku kenal. Anak yang polos, gampang dibohongin, dan lugu sekarang berubah jadi cewek maniak komik dan dewasa
setelah sekolah usai. Aku sengaja pulang paling terakhir, begitu uga Okta. Kelas pun sepi Okta pun menghampiriku dan bertanya mengapa aku mengangis. Lalu aku pun menceritakan semua yang aku dengar ke Okta. Setelah menceritakan semuanya, aku pun melihat mimik muka Okta yang semula ramah menjadi marah.
“Apa mereka perlu aku tonjok?” iinnya dengan nada geram
“Jangan, nanti mereka malah ngomong yang enggak-enggak”
“Tapi mereka perlu diaarin bicara”
“Udahlah nanti aku coba ngomong sama mereka. Jadi kamu gak perlu main tangan yah” pintaku pada Okta yang sedang geram. Dengan terpaksa Okta menuruti permintaanku. Keesokan harinya aku mencoba berbicara dengan mereka, dan ternyata semua itu cuman kesalah pahaman yang perlu diluruskan. Memang sedikit sulit untuk meluruskannya, tapi akhirnya mereka mengerti dan minta maaf atas perbuatan mereka selama ini.

 
Leave a comment

Posted by on September 1, 2007 in Kucer/Kumcer

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: